Tuesday, April 30, 2013

Strategi Bisnis UKM: Pilih ATL atau BTL?




Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol dengan seorang pelaku usaha kecil menengah (UKM), sebut saja pak Untung. Di tengah pembicaraan, dia bertanya ”Apa yang dimaksud dengan strategi above the line dan below the line?” Sebelum saya menjawab, Beliau sudah menambah pertanyaan lagi "Bagaimana menerapkan strategi above the line dan below the line dalam bisnis UKM?"

Nah, jika Anda memiliki pertanyaan yang sama seperti pak Untung, selamat membaca tulisan berikut ini dan semoga dapat menginspirasi Anda untuk menyusun strategi pemasaran bisnis UKM Anda.

Konsep above the line dan below the line dalam pemasaran

Istilah above the line (ATL) dan below the line atau (BTL) cukup populer di dunia pemasaran, tapi hingga saat ini belum ada definisi yang pasti untuk menjelaskan konsep tersebut. Salah satu pengertian yang pernah saya dapatkan, above the line merupakan aktivitas pemasaran yang ditayangkan di media massa (cetak, TV, radio, luar ruang), sedangkan aktivitas below the line dilakukan tanpa menggunakan media (pameran, sponsorship).

Sumber lain mendefinisikan below the line ( BTL) sebagai aktifitas marketing atau promosi yang dilakukan di tingkat pengecer yang bertujuan menarik konsumen supaya menggunakan atau membeli produk, contohnya : program diskon dan uji coba gratis. Di sisi lain, above the line ( ATL ) adalah aktifitas marketing atau promosi yang biasanya dilakukan oleh manajemen pusat sebagai upaya membentuk brand image yang diinginkan, contohnya : iklan di Televisi dengan berbagai versi.

Sebenarnya, istilah “line” (garis) dalam ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam pencatatan keuangan. Kategori pertama berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro iklan. Ini dimasukkan dalam biaya penjualan (cost of sales) yang akan menetukan laba kotor (gross profit). Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi. Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional yang menentukan laba bersih (net profit). Kedua jenis budget tersebut dipisahkan dengan sebuah garis (line). Yang mengandung unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut sebagai above the line. Sisanya, dijadikan satu di bawah garis tadi, disebut kelompok below the line.

Menerapkan strategi ATL dan BTL

Di luar beragamnya pengertian above the line dan below the line, konsep tersebut Anda terapkan dalam menjalankan bisnis UKM yang Anda jalankan. Gunakan aktivitas ATL, membangun merek atau brand, sedangkan aktivitas BTL digunakan dalam program penjualan.

Program membangun brand penting untuk mengenalkan bisnis atau produk Anda, sehingga calon konsumen mengetahui produk kita dan berpotensi membelinya suatu saat. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain: menjadi memasang iklan di koran, internet, Yellow Pages atau menjadi sponsor di acara TV lokal.

Sementara itu, strategi BTL dilakukan untuk memastikan calon konsumen membeli produk yang sudah dia ketahui (melalui kegiatan membangun merek.) Kadang, konsumen tidak langsung melakukan pembelian meski dia sudah mengetahui produk. Karena itu, perlu program penjualan untuk memicu pembelian produk oleh konsumen. Untuk program penjualan, pebisnis UKM bisa melakukan kegiatan seperti membagi voucher ke calon konsumen potensial atau membuat program diskon di toko.


Setelah konsumen membeli produk, selanjutnya ialah merawat hubungan dengan konsumen sehingga menjadi pelanggan. Buatlah pelanggan bisnis Anda  merasa nyaman dan semakin yakin menggunakan produk dan akan melakukan pembelian ulang di masa depan atau bahkan merekomendasikannya ke orang lain. Dalam tahap ini, brand sangat berperan untuk menguatkan posisi produk Anda dalam benak pelanggan.

Bagaimana menurut Anda?



- Sumber: http://thinkplanaction.blogspot.com/2011/01/pilih-above-line-atau-below-line.html
- Sumber gambar: http://keeldevelopment.files.wordpress.com/2012/03/below-or-above-the-line.jpg Tweet This
»»  READMORE...  

Monday, April 22, 2013

5 Syarat Company Profile Hebat




Anda pasti sudah mengerti bahwa Company Profile yang baik bisa menarik segmen pelanggan yang tepat untuk bisnis perusahaan Anda. Di sisi lain, Company Profile yang buruk dapat membuat pelanggan potensial pindah ke pesaing. Jadi, pastikan bisnis Anda memiliki Company Profile Hebat sehingga dapat menarik perhatian calon pelanggan sekaligus untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Apa saja yang Anda perlukan untuk membuat Company Profile  yang dapat menarik perhatian dan keingintahuan pelanggan potensial perusahaan Anda?

1.    Jelas dan akurat
Pastikan audiens mendapatkan informasi jelas dan akurat mengenai perusahaan Anda. Selalu cek ulang setiap data dan fakta yang ingin Anda sampaikan. Hindari menampilkan informasi yang akan membingungkan audiens.

2.    Mudah dipahami
Selalu gunakan istilah yang sederhana dan mudah dipahami. Company Profile yang Anda buat akan dibaca oleh audiens dengan beragam latar belakang, karena itu gunakan istilah yang biasa digunakan oleh kalangan umum.

3.    Penulisan tepat
Tulis Company Profile perusahaaan Anda menggunakan kata-kata  dan gaya penulisan yang tepat. Bahasa yang berbunga-bunga akan membuat audiens enggan membaca. Sebaliknya, gaya penulisan yang terlalu santai juga akan membuat audiens menyepelekan Company Profile perusahaan Anda.

4.    Bercerita
Ceritakan setiap pencapaian yang menjadi tonggak bersejarah dalam pengembangan perusahaan Anda. Sampaikan juga latarbelakang dan tujuan berdirinya perusahaan, visi dan misi perusahaan serta nilai dan budaya yang menjadi pedoman dalam pengembangan perusahaan. Cerita-cerita tersebut memberikan sentuhan 'manusia' pada Company Profile dan akan membuat audiens antusias membaca dari awal hingga akhir.

5.    Kredibel
Yakinkan audiens bahwa perusahaan Anda dapat diandalkan sebagai mitra bisnis. Tunjukkan orang-orang hebat yang mengelola perusahaan Anda. Selan itu, Anda juga dapat membangun kredibilitas dengan menunjukkan klien yang bekerjasama dengan perusahaan.

Gabungkan semua bahan di atas dalam komposisi yang tepat dalam Company Profile untuk menunjukkan bahwa perusahaan Anda adalah partner yang tepat untuk bekerjasama.



-    Diolah dari berbagai sumber
-    Sumber gambar: http://siddhigems.in/images/LPA%20world%20team.GIF

-    Ditulis untuk: http://companyprofile.co.id/ Tweet This
»»  READMORE...  

Wednesday, April 17, 2013

Strategi Bisnis UKM: Merek VS Penjualan




Di penghujung tahun 2010 yang lalu, saya berkesempatan melakukan pendampingan ke beberapa UKM Bordir Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ada 3 UKM yang saya kunjungi dan sempat bertukar pikiran dengan pemiliknya, dan ketiganya memiliki permasalahan bisnis yang berbeda. UKM pertama, memiliki keunggulan volume produksi yang besar, sekitar 300 kodi per bulan, tapi sebagian dijual tanpa merek ke pedagang perantara. Skema penjualan seperti itu akan meminimalkan margin keuntungan produsen, dan lebih besar untuk pedagang. Tapi, produsen menganggap hal itu tidak jadi masalah, dengan alasan berbagi rejeki. Bagi saya pribadi, sebuah alasan tersebut tidaklah salah, tapi mungkin kurang tepat.

UKM bordir kedua yang saya kunjungi, memiliki konsep eksklusif untuk produk bordir yang dihasilkannya. Selain memroduksi bordir, pengusaha ini memilki butik di salah satu pusat perbelanjaan di kota Taskmalaya untuk menjual produknya. Melihat bentuk, tampilan dan harga produk, memang menyasar ke kalangan menengah ke atas. UKM terakhir yang saya kunjungi juga memiliki toko sebagai showroom produk bordirnya. Dari hasil ngobrol, ternyata keberadaan toko tidak terlalu berperan dalam penjualan produknya, karena sebagian besar penjualan berupa pesanan dari luar kota.


Membangun merek atau menggenjot penjualan?

Satu hal serupa yang saya temukan dari Ketiga UKM Bordir tersebut di atas yaitu minimnya pemahaman tentang strategi branding atau merek. Semuanya sudah memiliki merek, tapi masih memandangnya sekadar label belaka, bukan sebagai bagian dari strategi pemasaran. Kegiatan branding memang dikenal sebagai sumber biaya (cost center) bukan sumber laba (profit center), sehingga menarik untuk pengusaha UKM.

Dengan kondisi UKM yang masih terbatas baik secara secara modal, jumlah produksi maupun SDM, manakah yang lebih tepat, lebih banyak melakukan aktivitas penjualan ataukah membangun merek? Komprominya ialah lakukan penjualan secara eceran untuk membangun merek dan mulailah menjual ke pasar B2B (bisnis ke bisnis) untuk mendapatkan omzet yang lebih besar. Kedua aktivitas ini idealnya dilaksanakan secara beriringan, bukan saling mengalahkan. Pasar bisnis ke bisnis, lebih menghasilkan volume penjualan besar tapi dengan keuntungan tipis. Sementara, penjualan eceran akan memberikan keuntungan yang lebih besar serta memungkinkan pembangunan merek produk.


Menyelaraskan strategi jangka panjang dan strategi jangka pendek

Membangun brand adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu cukup lama dan biasanya melalui enam tahap sebelum memungkinkan terjadinya penjualan berkesinambungan:
1. Tahap pengenalan (aware).
2. Tahap mengerti benefit atau positioning (understand).
3. Tahap meyakinkan bahwa produk lebih baik dari pesaing (preference).
4. Tahap membangkitkan semangat mencoba, membeli secepatnya (convince).
5. Tahap terciptanya penjualan (action/selling).
6. Tahap pembelian kembali (repeat).

Jika pengusaha UKM memandang secara jangka pendek, tentu saja branding bukan pilihan yang populer. Tapi, untuk jangka panjang, pengusaha UKM akan mendapatkan banyak keuntungan dari aktivitas branding. Jadi, aktivitas berbasis penjualan dan kegiatan untuk branding, sebaiknya bisa berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Bagaimana menurut Anda?


-Sumber tulisan: http://thinkplanaction.blogspot.com/2010/12/strategi-bisnis- 
  ukm-menyelaraskan.html

-Sumber gambar: http://blog.sribu.com/wp-content/uploads/2013/01/online-marketing-2-300x209.jpg Tweet This
»»  READMORE...  

Monday, April 8, 2013

7 Jurus Mengenalkan Bisnis Anda secara Efektif





“Selamat siang semuanya. Nama saya Afi, 25 tahun. Saya seorang Sarjana Arsitektur dari Universitas Diponegoro. Saat ini saya bekerja sebagai Penulis Kreatif di Lorco Menara Multimedia Bandung. Saya hobi membaca dan wisata kuliner.”



Mungkin seperti itulah cara kita memperkenalkan diri kepada seseorang yang baru kita kenal. Perkenalan diri  merupakan langkah pertama yang harus kita lakukan untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Perkenalan diri yang efektif sangat menentukan proses komunikasi selanjutnya.


Begitu juga dengan perusahaan, ia perlu memperkenalkan dirinya ke pihak lain untuk memulai berkomunikasi. Perusahaan dapat memperkenalkan diri melalui media cetak, video, atau situs online dalam sebuah media yang disebut Company Profile.


Untuk menciptakan Company Profile yang dapat mengomunikasikan perusahaan Anda  secara efektif, pastikan Anda menampilkan 7 hal berikut ini:

1.    Tuliskan tujuan utama dari bisnis perusahaan  Anda
Anda bisa mulai dengan menampilkan fakta penting mengenai perusahaan Anda. Pilihan lainnya     adalah menuliskan pernyataan visi dan misi perusahaan Anda.

2.    Ceritakan sejarah perusahaan Anda
Ceritakan bagaimana perjuangan para pendiri perusahaan di awal berdiri perusahaan Anda. Kemudian, tampilkan pencapaian penting yang berhasil diraih perusahaan dari awal berdiri hingga saat ini.

3.    Jelaskan kegiatan utama perusahaan Anda
Gambarkan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan Anda. Jelaskan nilai dan budaya yang menjadi panduan perusahaan dalam menjalankan kegiatannya.

4.    Tampilkan produk utama perusahaan Anda
Jelaskan apa layanan atau produk utama yang dihasilkan perusahaan Anda dan gambarkan seberapa luas wilayah yang sudah terjangkau.

5.    Tampilkan prestasi perusahaan Anda
Jelaskan pencapaian perusahaan Anda dalam waktu dekat ini dan bagaimana rencana untuk mempertahankan serta meningkatkan pencapaian tersebut di periode berikutnya. Tampilkan juga penghargaan dan sertifikasi dari lembaga yang berkompeten yang menunjukkan keunggulan perusahaan Anda.

6.    Pamerkan siapa pelanggan utama perusahaan Anda.
Kenalkan siapa saja pelanggan yang menggunakan produk dan layanan perusahaan Anda. Jelaskan bagaimana hubungan kerjasama yang telah berjalan dan ceritakan bahwa pelanggan sangat yakin dan puas dengan kinerja perusahaan Anda.

7.    Tambahkan sentuhan personal dalam profil perusahaan Anda
Ceritakan tentang program sosial dan pemberdayaan masyarakat atau program pelestarian lingkungan yang perusahaan Anda jalankan. Anda juga bisa menampilkan seseorang yang merasakan manfaat dari program tersebut.


Company Profile akan menjadi referensi untuk pelanggan, karyawan, pemasok, investor, media dan stakeholder lainnya. Karena itu, pastikan perusahaan Anda memiliki Company Profile yang menampilkan 7 elemen di atas agar dapat mengomunikasikan perusahaan Anda secara efektif.



- Diolah dari berbagai sumber
Tweet This
»»  READMORE...  

Friday, March 18, 2011

Model bisnis freemium: Jadikan produk Anda sebagai candu





Salah satu model bisnis yang cukup berkembang saat ini ialah freemium, yang mengkombinasikan layanan free dan premium. Model bisnis ini semakin populer karena banyak perusahaan online yang menggunakannya, misal layanan untuk menyimpan atau berbagi file seperti Mediafire, dan layanan telepon melalui internet seperti Skype. Apa saja yang perlu Anda persiapkan untuk membangun bisnis menggunakan model freemium ini?

Uang vs Perhatian
Dalam skema bisnis freemium, hal pertama yang harus Anda lakukan ialah merebut perhatian calon konsumen. Salahsatu cara termudah untuk memikat calon konsumen Anda ialah dengan membagikan produk Anda secara gratis kepada mereka. Setelah konsumen bersedia mencoba produk Anda, baru dilakukan upselling untuk menjual produk versi berbayar atau menjual produk Anda yang lain.

Skype bisa menjadi contoh model bisnis freemium yang cukup berhasil. Skype adalah layanan yang memungkinkan penggunanya melakukan panggilan telepon dengan biaya yang sangat murah, bahkan gratis. Untuk versi gratis, pengguna hanya bisa melakukan panggilan ke sesama pengguna Skype. Tapi, jika pengguna ingin melakukan panggilan ke pesawat telepon, ia harus membayar meski dengan harga yang lebih murah dibanding layanan telepon biasa.

Batas yang jelas antara Free dan Premium
Untuk menerapkan model bisnis freemium, sebaiknya Anda memulai dengan memberikan batasan dan pilihan yang jelas antara yang gratis dan berbayar, beserta dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Misal, untuk layanan email gratis, konsumen hanya mendapatkan kapasitas 1 GB, tapi akan ditingkatkan mejadi 20 GB hanya dengan membayar Rp 100.000 per bulan.

Biarkan konsumen untuk mencoba dan merasakan

Dengan membiarkan konsumen untuk mencoba produk Anda secara gratis, akan menciptakan pengalaman bagi konsumen. Jika mereka merasa puas dengan kualitas produk Anda, sudah pasti mereka akan stia menggunakan produk Anda dan dengans senang hati merekomendasikannya kepada orang lain. Selanjutnya, Anda perlu memikirkan bagaimana caranya supaya pengguna “kecanduan” dengan produk Anda, dan ini merupakan kunci model bisnis freemium. Ketika penggguna mulai tergantung dengan produk atau layanan Anda, berikan pilihan untuk mengunakan layanan berbayar dengan fasilitas lebih lengkap daripada versi gratis. Pengguna yang sudah jatuh cinta dengan produk Anda, tentu akan lebih mudah beralih ke produk versi berbayar yang Anda tawarkan.

Berikan layanan luarbiasa

Satu hal yang perlu Anda perhatikan, untuk menjalankan konsep bisnis freemium, Anda harus memberikan layanan yang luarbiasa kepada konsumen. Dengan dukungan layanan yang optimal serta konsisten, konsumen tak perlu berpikir panjang jika suatu saat ingin menggunakan layanan versi berbayar.

Bagaimana, apakah Anda siap menjalankan bisnis Freemium?

-Diolah dari berbagai sumber
- Sumber gambar:  http://www.iheartfris.co/wp-content/uploads/2012/11/free.jpeg
Tweet This
»»  READMORE...  

Wednesday, March 2, 2011

4 Trik Membidik Sang Penguasa Rumahtangga






Penguasa rumahtangga, itulah jabatan yang layak diberikan kepada wanita masa kini. Coba perhatikan siapa yang paling berperan dalam menentukan keputusan pembelian di keluarga Anda. Mungkin sebagian keputusan masih dipegang oleh ayah, tapi pengaruh ibu sangat besar untuk menentukan produk apa yang akan dibeli akhirnya.

Wanita semakin “berkuasa” dan rasional

Tren wanita karier dan meningkatnya kemandirian wanita masa kini, semakin memperkuat posisi wanita dalam proses keputusan pembelian produk. Berdasarkan data di Amerika Serikat, 80% keputusan pembelian ditentukan oleh wanita dan itu tidak hanya berlaku untuk produk rumahtangga, tapi juga produk-produk “lelaki.” Berikut ini beberapa angka statistik yang menunjukkan semakin “berkuasa”-nya wanita:
  • 80% pembelian pakaian (untuk pria, wanita dan anak-anak) dilakukan oleh wanita.
  • 52% pembelian kendaraan bermotor dilakukan oleh wanita (dan 85% dipengaruhi oleh wanita)
  • 40% pembelian alat elektronik dilakukan oleh wanita (dan 61% pembelian dipengaruhi oleh wanita)
  • 70% keputusan untuk pembelian produk kesehatan, dilakukan oleh wanita.
  • 70% keputusan untuk pembelian produk travel dilakukan oleh wanita.
  • 90% wanita berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi pengeluaran maupun investasi rumahtangga.
Karakter wanita dan cara “memikat” mereka
Meski secara umum wanita tetap impulsive ketika melakukan pembelian, tetapi ada kecenderungan mereka menjadi lebih rasional dan mengarah kepada perilaku smart spender karena pertimbangan utama mereka saat melakukan pembelian adalah kebutuhan. Dan bagi wanita, harga bukan menjadi penentu utama dalam pembelian produk, tetapi kualitas yang akan mereka utamakan.


Karakter wanita lainnya yang jelas terlihat ialah mereka lebih menggunakan faktor emosional dalam bertindak. Karenanya, Anda perlu menjalankan program pemasaran dengan pendekatan lebih personal kepada wanita. Berikut ini beberapa trik yang bisa Anda lakukan supaya aktivitas pemasaran yang anda lakukan lebih mudah diterima oleh pasar wanita:
  1. Komunikasikan nilai produk Anda, daripada fitur kelengkapan produk. Daripada menjelaskan apa itu air brake system pada mobil yang Anda jual, lebih baik terangkan nilai keamanan yang akan konsumen rasakan ketika mengendarainya.
  2. Seorang wanita sangat peka, jadi jangan pernah mengingkari janji berkaitan dengan produk atau layanan Anda. Jika toko Anda menjanjikan promosi beli 1 gratis 1, pastikan konsumen mendapatkannya dengan mudah.
  3. Wanita memiliki standard penilaian tinggi untuk produk yang ingin dia beli. Jadi, jangan pertaruhkan produk Anda dengan memberikan produk yang kurang berkualitas.
  4. Wanita merupakan pelanggan yang loyal. Anda harus bisa menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan konsisten menyediakan produk yang memenuhi harapannya.

Tweet This
»»  READMORE...  

Monday, January 10, 2011

Tips meningkatkan penjualan menggunakan Impulse Buying






Ketika seorang calon pembeli berada di toko Anda, ada 2 alasan mengapa dia akhirnya membeli produk yang Anda jual. Yang pertama, karena dia memang sudah merencanakan untuk membeli produk tersebut. Mungkin, dia sudah mencari informasi mengenai produk dari internet atau dengan bertanya ke temannya yang lebih berpengalaman. Setelah mendapat informasi produk secara lengkap, si calon konsumen datang ke toko dan membeli produk tersebut. Yang kedua, calon konsumen datang ke toko tanpa rencana mau membeli apa. Kemudian, dia melihat produk dengan harga diskon dan sangat tertarik dengannya. Jika si konsumen akhirnya membeli produk karena ingin memanfaatkan harga diskon, kejadian inilah yang disebut dengan impulse buying.

Impulse buying adalah kondisi yang memicu terjadinya “unplanned purchase” atau pembelian yang tidak direncanakan. Perilaku pembelian secara emosional ini sangat mungkin terjadi, karena sebagian besar konsumen melakukan pembelian karena pengaruh persaan. Gerald Zaltman (dalam “How Customers Think”) mengatakan bahwa 95 persen keputusan pembelian suatu produk lebih didasarkan pada perasaan (feeling) dibandingkan pikiran (thought) yang hanya menempati porsi 5 persen.

Perilaku impulse buying, bisa terjadi dalam 3 kondisi:
1. Pure impulse buying, yaitu konsumen membeli produk setelah ia melihat produk yang dipajang di toko tanpa perencanaan sebelumnya. Produk tersebut biasanya dipajang secara mencolok di bagian yang mudah terlihat oleh pengunjung toko. Kemungkinan pure impulse buying semakin besar jika produk dijual dengan potongan harga atau diskon.
2. Reminder impulse buying , yaitu konsumen membeli produk yang dipajang di toko karena ia ingat pernah melihat iklan produk tersebut atau pernah mendengar cerita tentang produk tersebut dari orang lain.
3. Suggested impulse buying yaitu konsumen membeli produk setelah membaca brosur atau leaflet yang menyertai produk. Pembelian juga bisa terjadi karena saran atau informasi produk yang disampaikan oleh karyawan toko atau SPG (Sales Promotion Girls.)

Memanfaatkan perilaku “impulse buying”

Bagi pemasar, perilaku “impulse buying” merupakan sesuatu yang sangat menguntungkan. Konsumen yang tertarik secara emosional, biasanya tidak melibatkan rasionalitas dalam keputusan pembelian produk. Kadang, konsumen menggunakan alasan rasional hanya untuk membenarkan keputusannya itu. Secara sederhana, konsumen sebenarnya membeli berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan.

Menurut ACNielsen, sebanyak 85% pembelian di pasar modern terjadi tanpa rencana. Hanya 15% sisanya yang "berdisiplin" untuk berbelanja sesuai dengan daftar belanjaan mereka. Keberadaan impulse buying adalah peluang bagi pemasar untuk memperkenalkan produk baru. Melalui komunikasi yang efektif di dalam toko dan program promosi, hal ini akan mempromosi, hal ini akan mempengaruhi pilihan merek yang dibeli konsumen dan mendorong untuk belanja lebih banyak.

Tapi, satu hal yang perlu Anda cermati, “impulse buying” harus diimbangi dengan kualitas produk yang bagus. Biasanya, setelah membeli dengan impulse buying, konsumen akan memperhitungkan dengan cermat produk yang dia beli. Jika akhirnya produk tersebut tidak memenuhi harapan konsumen, maka hal tersebut bisa menciptakan kesan buruk dalam benak konsumen. Hal ini akan merugikan, karena konsumen tersebut tidak akan melakukan pembelian ulang di toko Anda. Jadi, bijaklah dalam memanfaatkan impulse buying di toko Anda…

- Diolah dari berbagai sumber
- Sumber gambar:  http://www.femalefirst.co.uk/image-library/land/500/s/stock-shopping-bags-fashion.jpg

Tweet This
»»  READMORE...  

Sunday, December 19, 2010

Pajak Restoran dan Konsep Change dalam Bisnis






Beberapa pekan yang lalu, media ramai memberitakan rencana penerapan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah yang salah satu isinya mengatur Pajak Restoran untuk 26.900 warung nasi (warteg) yang ada di Jakarta. Besaran pajak tersebut ialah 10% dari omzet dan dibayarkan setiap bulan dengan skema pajak progresif dan penghitungan oleh wajib pajak (self assessment).

Kebijakan ini segera memicu pro-kontra, dengan sebagian besar masyarakat berada di pihak yang kontra dan kelompok pendukung kebanyakan ialah para pejabat pemerintah. Wajar jika banyak yang menolak , karena kebijakan ini akan semakin memberatkan hidup masyarakat. Besaran pajak 10% akhirnya akan ditanggung oleh masyarakat umum sebagai konsumen warteg dan sangat mungkin akan mengurangi omzet penjualan warteg akibat berkurangnya daya beli masyarakat.

Pajak sebagai Faktor Change dalam Bisnis
Jika dilihat dari model lansekap bisnis 4C-nya Kenichi Ohmae dan Hermawan Kartajaya, ada faktor Change atau perubahan yang akan mempengaruhi strategi bisnis. Ketika pemasar sudah tuntas menyusun strategi berdasarkan Company, Customer dan Competitor, ada faktor ke-4 yang bisa merubah semuanya. Change atau perubahan itu terjadi karena perkembangan teknologi, situasi mikro dan makroekonomi, kondisi politik dan kultur sosial, ataupun perubahan dalam regulasi. Peraturan pajak ialah salah satu faktor Change yang harus diantisipasi oleh pemilik bisnis.

Anda pernah mendengar kisah sukses seorang pengusaha yang dimulai dari peristiwa PHK diri-nya dari perusahaan tempatnya bekerja? Tapi, dengan sikap hidup dan pola pikir positif, dia bisa mengatasi perubahan hidupnya yang drastis menjadi seorang wiraswasta dan berhasil meraih kesuksesan yang jauh lebih besar daripada saat menjadi karyawan. Seharusnya, seperti itu pula pengusaha warteg dalam memandang kebijakan pajak tersebut, yaitu selalu berpikir secara positf.

Bijak Menyikapi Pajak
Ketentuan Pajak Restoran ini, seharusnya menjadi batu loncatan pengusaha warung nasi (warteg) untuk melangkah ke depan menjadi bisnis yang lebih menguntungkan dan memiliki manajemen yang profesional dan lebih terbuka. Dengan penerapan pajak restoran secara konsisten, akan menciptakan seleksi terhadap pelaku usaha warteg. Hal ini akan menciptakan persaingan usaha yang dinamis dan positif.

Kemudian, pengusaha warteg sebaiknya mulai mengelola scara profesional, diantaranya dengan melakukan beberapa hal berikut ini:
1.Menyusun manajemen yang rapi untuk membangun perusahaan yang handal.
2.Menciptakan strategi bersaing yang tepat, tidak hanya mengandalkan keunggulan harga.
3.Menyusun program pemasaran terpadu untuk menciptakan keuntungan bisnis yang berkesinambungan.
4.Menjalin koordinasi dengan seluruh pegusaha warteg untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

- Diolah dari berbagai sumber
- Sumber gambar:  http://www.inijie.com/wp-content/uploads/2010/04/pajak_ppn_tax_resto-300x225.jpg
Tweet This
»»  READMORE...  

Monday, November 8, 2010

Juicing the Orange: Belajar Kreativitas Iklan ala Fallon






Apa yang Anda pikirkan ketika memerlukan layanan hotel bertarif murah (low cost hotel) seperti Tune Hotels-nya Air Asia atau Hotel Amaris milik Grup Santika? Harga terjangkau dan kamar tidur yang layak, pasti itu yang pertama kali muncul di benak Anda. Bagaimana jika semua hotel tersebut, menawarkan harga dan layanan yang sama, faktor apa yang bisa meyakinkan Anda untuk memilih salah satu dari mereka?

Holiday Inn Express
Fallonsebuah biro iklan bermarkas di Minessotamenghadapi situasi yang sama ketika pada tahun 1997 mulai menangani Holiday Inn Expressjaringan low cost hotel milik grup Holiday Inn. Saat itu, di pasar low cost hotel sudah bercokol jaringan hotel Courtyard milik Marriot dan jaringan hotel Hampton Inn, yang bahkan sudah memulai bisnis mereka sejak tahun 1983 dan 1984. Karenanya, mau tidak mau Fallon harus bisa mengalahkan mereka dengan kreativitas, bukan dengan anggaran.

Tim kreatif Fallon pun segera melakukan riset untuk menemukan calon konsumen yang paling dekat dengan layanan low cost hotel. Mereka memusatkan perhatian kepada para pejuang jalanan sejati, para pebisnis independen yang sering melakukan perjalanan atas biaya sendiri atau dengan anggaran terbatas. Mereka sangat mungkin menjadi pengunjung rutin Holiday Inn Express dan sedikit kemungkinan mereka akan mengganggu pemasukan Holiday Inn-yang lebih tepat untuk para pelancong.

Selanjutnya, tim mengikuti perjalanan para “pejuang jalanan“ untuk mempelajari perilaku mereka. Akhirnya tim riset Fallon menemukan fakta bahwa para “pejuang jalanan“ memerlukan “kecerdasan” khusus ketika memilih hotel yang menguntungkan untuk mereka. Secara emosional, para “pejuang jalanan“ akan merasa “cerdas” ketika berhasil mendapatkan hotel terbaik selama perjalanan bisnis mereka. Ide “cerdas” ini belum dimanfaatkan hotel pesaing, yang lebih focus ke fasilitas dan kenyamanan untuk meraih pelanggan.

Kampanye “Stay Smart”
Setelah menjalani rapat-rapat tegang bersama klien, akhirnya tim kreatif Fallon berhasil memunculkan slogan “Stay Smart” (“menginaplah dengan cerdas” atau “tetap cerdas”) untuk mengkomunikasikan gagasan besar tersebut. Kampanye “Stay Smart” bercerita tentang seseorang yang tampil dalam keadaan darurat dan dengan cemerlang berhasil mengatasinya, bukan karena ia seorang pakar, tapi karena semalam ia menginap di Holiday Inn Express.

Iklan pertama pun tayang, sekelompok wisatawan di sebuah taman nasional tak berdaya menyaksikan seorang wanita yang berhadapan dengan seekor beruang grizzly. Sang pahlawan yang entah muncul dari mana, segera mengambil kendali. Ia meneriakkan instruksi kepada si wanita, dan akhirnya Sang Pahlawan berhasil menangani situasi dengan baik. “Apakah Anda pengelola taman ini?” tanya seorang pengunjung taman. “Bukan, tapi semalam saya menginap di Holiday Inn Express” jawab Sang Pahlawan.
Iklan kampanye “Stay Smart” ditayangkan pada hari Minggu dan Senin, karena hanya di hari itu para “pejuang jalanan” ada di rumah mereka. Dan di hari itu, mereka sedang merencanakan perjalanan bisnis mereka di minggu berikutnya. Iklan ditayangkan hanya di tiga stasiun tv yang menjadi andalan para “pejuang jalanan”: CNN, ESPN dan Weather Channel.

Kreatif sekaligus Efektif
Kampanye Stay Smart bukan saja kreatif, tapi juga mencapai tujuan yang ditentukan. Beberapa hal yang menjadi ukuran keberhasilan kampanye ini:
1. Mendapatkan liputan media senilai 1 juta dolar.
2. Brand awareness meningkat 27 poin, sedangkan hotel lain tetap di angka sebelumnya.
3. Pendapatan per kamar yang tersedia (Revenue per Available Room) meningkat 15%, sedangkan hotel lain hanya 9%.
4. Pada tahun 1999 Holiday Inn Express memiliki 850 properti, tahun 2004 mereka sudah memiliki 1350 properti di seluruh Amerika.
Penghargaan untuk kampanye Stay Smart Holiday Inn Express:
1. Piala Odyssey kategori Iklan Perjalanan dari Asosiasi Industri Perjalanan, tahun 2001
2. Piala Effie kategori Iklan paling Efektif dari Asosiasi Pemasaran Amerika, tahun 2000, 2001, 2002, 2003 dan 2004
3. “Best Brand for Low Cost Hotel” dari majalah Business Travel News
4. “Hotel Pilihan para Pebisnis” dari majalah Enterpreneur.
Bahkan, di tahun 2005 yang berarti 6 tahun sejak pertama kali merek diluncurkan, Holiday Inn Express maasih mendapatkan publikasi gratis di media. Hal itu terjadi ketika sebuah surat kabar menampilkan editorial berupa kartun yang menampilkan salah seorang kandidat Hakim Agung menjawab pertanyaan tentang kualifikasi dirinya dengan kalimat: “ Saya tidak pernah menjadi hakim sebelumnya, tapi semalam saya menginap di Holiday Inn.”

Juicing the Orange
Nah, kampanye “Stay Smart “milik Holiday inn Express di atas adalah salah satu kasus yang dibahas di buku Juicing the Orange karya Pat Fallon dan Fred Senn. Isi buku ini menceritakan kasus-kasus pemasaran yang ditangani Fallon Worldwide, dimana kedua penulis berkarya. Selain itu, kampanye-kampanye iklan mereka pun berhasil meraih Effie Award, penghargaan untuk efektivitas periklanan.

Untuk menangani permasalahan kliennya, biro iklan Fallon menggunakan pendekatan pemasaran kreatif yang disebut dukungan kreatif (creative leverage). Pendekatan ini bertujuan untuk membantu klien agar mereka lebih pintar, bukan lebih boros dan untuk memperkuat otak bukan dana; untuk juicing the orange (memeras jeruk) dan bukan mengosongkan dompet.

Konsep juicing the orange diterapkan dengan menjalankan 7 Dukungan Kreatif yang terdiri dari:
1. Selalu mulai dari nol
Hati-hati dengan pola yang telah ada sebelumnya, bisa jadi Anda akan terperangkap dalam pola tersebut. Akan lebih baik jika Anda membuat pola baru mulai dari nol, dengan informasi yang faktual dan aktual.
Dulu, selama Perang Dunia II, para periset militer Inggris dengan cermat menghitung kerusakan pesawat Sekutu setelah mengebom Jerman. Berdasarkan statistic, kerusakan di bagian ekor paling parah, sehingga diinstruksikan untuk memperkuat bagian itu. Ternyata, mereka memperbaiki kesalahan yang bukan sebenarnya. Karena, riset itu hanya berfokus pada pesawat yang kembali, tanpa mengetahui apa yang terjadi pada pesawat yang tertembak jauh. Setelah menggali informasi kerusakan pesawat yang tertembak jatuh, akhirnya mereka bisa menyimpulkan bahwa bagian yang paling lemah ialah pada badan dan sayap pesawat.
2. Definisikan masalah bisnis secara paling sederhana
Temukan dan pahami masalah yang paling mendasar, kemudian cari solusi terbaik dari masalah tersebut.
3. Gunakan ikatan emosi
Hanya kampanye yang menciptakan hubungan manusiawi secara tulus dengan kelompoknya lah yang bisa mengundang konsumen untuk berpartisipasi dalam pesan Anda.
4. Fokus pada gagasan, bukan pada biaya
Jangan paksakan bisnis Anda untuk mengeluarkan anggaran pemasaran raksasa, jika Anda bisa melakukannya hanya dengan sedikit kreativitas karya otak Anda, secara gratis!
5. Cari resiko strategis
Ambil resiko untuk kepentingan strategis, untuk menghadapi persaingan dan demi masa depan. Jika bukan Anda yang melakukan, pesaing Anda lah yang akan memanfaatkannya.
6. Kolaborasi atau mati
Kini, kolaborasi bukan pilihan; pertanyaannya adalah, seberapa bagus Anda melakukannya? Selama bertahun-tahun, Robert Kelley dari Carnegie Mellon University mengajukan pertanyaan kepada orang-orang di berbagai perusahaan: “Berapa persen pengetahuan-yang anda perlukan untuk melakukan pekerjaan Anda-yang tersimpan dalam benak Anda?” Pada tahun 1986, jawabannya berkisar 75%, tetapi pada tahun 1997, angka itu turun menjadi 15 hingga 20 persen.
7. Dengarkan baik-baik pelanggan Anda (lalu dengarkan lagi)
Libatkan konsumen dalam proses riset dan ajukan pertanyaan yang tepat, kemungkinan besar Anda akan mengetahui cara memiliki hubungan yang baik dengan mereka.

- Diolah dari buku Juicing the Orange karya Pat Fallon dan Fred Senn
- Sumber gambar: http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQYILWiT3QzF6Nm8q3_YLPUDnCEn6fZrtByNIXx8G7aQHaxgHey
Tweet This
»»  READMORE...  

Friday, January 1, 2010

Jenis logo apa yang paling tepat untuk merek Anda?

Logo merupakan salah satu alat pemasaran yang berfungsi meningkatkan awareness perusahaan atau produk Anda oleh target pasar yang dituju. Selain itu, logo berperan penting dalam proses membangun merek. Desain logo yang baik, bisa membantu memasarkan merek perusahaan atau produk Anda, dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Proses penciptaan logo, sebaiknya melibatkan orang yang paling paham dengan tujuan dan karakter perusahaan. Untuk itu, Anda sebagai pemilik merek, perlu memahami konsep dan jenis logo seperti berikut ini:

1. Wordmark
Logo jenis ini menggunakan nama perusahaan atau produknya. Logo ini bisa menjelaskan jenis produk atau bidang pekerjaan perusahaan. Misal: Coca-Cola (minuman cola), Alfamart (minimarket)








2. Lettermark
Serupa dengan wordmark, perusahaan yang menggunakan lettermark memiliki nama merek yang menggambarkan jenis produk merek tersebut. Bedanya, ia lebih menggunakan inisial huruf. Misal: BRI (Bank Rakyat Indonesia), RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia)





3. Brandmark Symbol
Menggunakan simbol sederhana tapi berkarakter kuat, yang menggambarkan perusahaannya. Terkadang, simbol yang digunakan bersifat abstrak dan sukar dipahami.

Logo jenis ini, digunakan oleh perusahaan besar yang memiliki beragam produk dan merek. Misal: Unilever, PERTAMINA






4. Iconic Logotype
Logo yang memadukan Wordmark dengan Brandmark. Keunggulan logo jenis ini, ia bisa menggambarkan apa yang dikerjakan perusahaan sekaligus menampilkan karakter perusahaan. Misal: Bank Mandiri, Telkom.






Dan untuk menentukan jenis logo yang paling tepat, luangkan sedikit waktu Anda untuk menggali insight merek Anda. Supaya logo berfungsi efektif, Anda perlu menyiapkan visi dan misi, sasaran pasar, serta karakter dan budaya merek. Seperti halnya ketika saya harus menentukan logo BaksoGranatz, perlu proses cukup panjang hingga akhirnya lahir logo BGz yang dipakai saat ini.

Terakhir, untuk Anda yang sedang membesarkan sebuah merek, selamat memilih logo terbaik!


-Sumber: http://about.com
Tweet This
»»  READMORE...  

Saturday, December 5, 2009

Merek di Era New Wave: Tunjukkan Siapa Anda Sesungguhnya






Awalnya, merek (brand) digunakan untuk membedakan sebuah produk diantara produk lain yang sejenis. Dengan menggunakan merek, sebuah produk akan keluar dari kategori produk komoditas, yang harganya ditentukan oleh hukum pasar. Oleh karena itu, produk bermerek berkesempatan memasang harga di atas rata-rata harga pasar.

Tahun 1955, di Harvard Business Review tayang sebuah artikel bertajuk “The Product and The Brand” tulisan Burleigh Gardner dan Sidney Levy, yang semakin memperjelas perbedaan antara merek dengan produk. Konsep merek, mulai dirumuskan pada tahun 1980-an, termasuk bagaimana mengukur nilai sebuah merek (brand equity). Kemudian, istilah merek pun semakin populer di tahun 1990-an, dan menjadi bahasan utama dalam bidang pemasaran.

Dulu, sebuah merek cukup dengan nama yang unik, slogan nan indah, desain logo cantik atau jingle iklan populer. Manajemen merek pun ditujukan untuk meningkatkan nilai merek, dengan program pemasaran terpadu, promo, iklan ataupun program kehumasan. Saat itu, semua merek bekerja keras untuk meraih brand value, brand strength, top of mind, brand awareness dan brand loyalty, yang ujung-ujungnya akan melipatgandakan brand equity masing-masing.

Kini, Anda sebagai pemilik merek, sepertinya harus merubah paradigma tentang merek. Mungkin benar apa yang diungkapkan Hermawan Kartajaya, di era New Wave sekarang ini, “Merek adalah Karakter”. Ya, tidak cukup hanya membangun merek, tapi juga harus membangun karakter. Merek hanyalah selubung yang membungkus karakter sesungguhnya produk atau bisnis Anda. Karakter berkaitan dengan siapa Anda yang sebenarnya, dan bagaimana masyarakat melihat Anda apa adanya. Oleh karena itu, proses membangunan karakter ini, harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan yang universal seperti kejujuran, saling menghormati, tanggung-jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan rasa kemanusiaan.

Dan satu hal lagi, bukan perusahaan raksasa saja yang harus membenahi karakter mereknya. Setiap pemilik merek semestinya melakukan hal yang sama, bahkan untuk level usaha kecil menengah (UKM). Seperti yang saat ini saya lakukan untuk BaksoGranatz, sebuah merek gerai bakso di daerah Sumpiuh, Banyumas Jawa Tengah. Mengawalinya dengan menciptakan nama yang unik, kemudian desain logo yang sesuai, termasuk dengan menjaring komunitas melalui situs jejaring sosial facebook. Karena target market BaksoGranatz lebih ke konsumen usia muda, karakter BaksoGranatz dirancang seperti anak muda jaman sekarang, yang kreatif, open mind, segar dan selalu semangat. Tentu saja tanpa melupakan nilai kejujuran, dan kebaikan universal lainnya.

Nah, bagaimana dengan Anda?



- Diolah dari berbagai sumber.
- Ditulis untuk "Bloggers - MarkPlus Conference 2010 - New Momentum New Strategy."
- Sumber gambar:  http://www.idea-sandbox.com/blog_images/brand_of_frankenstein.png
Tweet This
»»  READMORE...  

Thursday, November 19, 2009

10 Ide Promosi untuk Meningkatkan Penjualan Toko Anda tanpa Diskon







Lebaran Iedul Fitri sudah berlalu, itu artinya tren belanja masyarakat pun mulai menurun. Hal ini dirasakan sebagian besar bisnis, khususnya bisnis eceran. Mungkin Anda juga merasakan hal yang sama?

Untuk meningkatkan penjualan di suasana pasca-Lebaran, pemilik bisnis harus berpikir secara cermat. Cara yang biasa, seperti diskon misalnya, kadang bukan pilihan terbaik di saat seperti ini. Lalu promosi seperti apa lagi yang harus Anda jalankan?

Selain diskon, sebenarnya masih banyak pilihan promosi yang bisa Anda gunakan. Anda harus jeli mengamati target pasar, untuk menciptakan promosi yang tepat sasaran. Jika anda belum punya gambaran, semoga 10 ide promosi berikut bisa membantu. Apa saja itu? Sila simak di bawah ini:

1. Beli 1 gratis 1 – daripada Anda memberi diskon 50%, skema beli 1 gratis 1 akan terasa lebih menguntungkan kedua belah pihak. Anda dapat  menjual produk dengan harga utuh, dan pelanggan akan merasa beruntung mendapatkan 1 produk secara gratis.

2. Kursus Gratis – Untuk Anda yang menjual produk dengan prosedur pemakaian tertentu, berikan kursus gratis mengoptimalkan manfaat produk Anda. Pelanggan tentu akan merasa sangat terbantu dan berterimakasih atas layanan tersebut.

3. Promosi Bersama – Kerjasama dengan pemilik bisnis lain yang relevan di sekitar Anda. Bisa dicoba kerjasama dengan bisnis yang menjual produk pelengkap produk yang Anda jual, atau bisnis yang memiliki target pasar yang sama dengan bisnis Anda. Misal, BaksoGranatz membuat promo: Beli 10 porsi BaksoGranatz GRATIS 1 jam akses internet, bekerjasama dengan warung internet terdekat.

4. Hadiah Gratis untuk jumlah pembelian tertentu – Berikan hadiah untuk pelanggan yang membeli produk dalam jumlah tertentu. Misal, BaksoGranatz memberi hadiah T-Shirt gratis untuk setiap pembelian 20 porsi BaksoGranatz..

5. Hadiah Kejutan untuk pembelian tertentu – Kepuasan pelanggan terjadi ketika seseorang mendapatkan lebih dari yang dia harapkan. Atau, Anda memberikan sesuatu melebihi apa yang Anda janjikan. Untuk itu, berikan hadiah kejutan untuk pembeli dengan nilai transaksi tertentu, dan buat dia terpesona dengan layanan bisnis Anda.

6. Jual Paket – Produk yang kurang laris di toko Anda, bisa dijual satu paket dengan produk yang banyak diminati pembeli. Daripada menumpuk di gudang, jauh lebih baik untuk secepatnya menjual produk yang kurang laku tersebut.

7. Berikan Voucher – Pastikan pengunjung toko Anda kembali di lain waktu, dengan memberi voucher belanja di toko Anda. Jangan lupa untuk mecantumkan masa berlaku voucher tersebut.

8. Gratis Layanan Purna Jual — Berikan layanan perawatan produk yang pelanggan beli, gratis untuk 2 pekan atau 1 bulan pertama.

9. Konsultasi Gratis – Pelanggan bisa berkonsultasi mengenai penggunaan dan perawatan produk yang dia beli di toko Anda. Selama konsultasi, Anda juga bisa menawarkan produk pelengkap untuk produk yang sudah dibeli pelanggan.

10. Gratis Desain — Jika Anda pemilik bisnis percetakan, gratiskan biaya desain untuk pemesanan dalam jumlah tertentu.

- Diolah dari sebuah artikel di: http://www.wordsthatsell.com.au 
- Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAUd1klUaTFFOB2h-CrAvGG7AX_6t-LgksKNPODf1yES-qSJM2dBQG-R0aALVaXSuK-VDjk33qsT7Cu9GEEoOjs063gbDyhfSb5jmN7slnsWOF3SnbMcH8cYq0Jm4yRRpJegGQGnaQ5ng/s1600/sold-out.gif
Tweet This
»»  READMORE...  

Tuesday, November 3, 2009

Yakinlah, semua pelanggan itu (sebenarnya) pemaaf






Sabtu pagi 7 Desember 2008 yang lalu, saya menelepon ke Plasma Computer Purwokerto, menanyakan keadaan hard disk yang saya perbaiki di sana. Sepekan sebelumnya, ketika saya menyerahkannya kepada salah seorang karyawan di sana, dia menjanjikan bisa memperbaiki dalam waktu 1 pekan. Saya pun mengiyakan ucapannya.

Hari itu, tepat 1 pekan sejak kedatangan saya ke Plasma Computer, ternyata hard disk belum selesai diperbaiki. Kecewa pastinya, karena itu artinya penantian sepekan tidak menghasilkan apa-apa. Apalagi, banyak pekerjaan yang terbengkalai akibat ketiadaan komputer (dan hard disk di dalamnya). Semakin kecewa dan marah, ketika si karyawan Plasma Computer yang menerima telepon saya, mencoba berkelit dengan alasan hari itu listrik mati. (So what gitu loh, saya hanya tahu hard disk selesai dalam 1 pekan. Mau listrik mati sehari, seminggu, atau bahkan setahun pun, saya ga mau tahu. Saya hanya memegang janji mereka).

Jam 10.30, saya sampai di Plasma Computer, rasanya sudah tak sabar untuk “membantai” pemilik toko yang tidak bertanggungjawab itu. Tapi, saya coba untuk bersikap wajar, apalagi saya bukan tipe orang “sadis”. Beruntung, saya langsung bertemu dengan Mas Deni, si pemilik toko sekaligus yang paling berpengalaman memperbaiki komputer. Ternyata, hard disk saya sempat terselip, sehingga belum selesai diperbaiki. Ajaib, hanya karena alasan “klasik” itu, rencana saya untuk memberi “pelajaran” kepada toko yang tidak bertanggung jawab ini, menguap begitu saja. Yang ada malah perasaan puas, karena sudah mendapatkan kejelasan kondisi hard disk saya yang sebenarnya dan mereka menjanjikan bisa diambil besok siang (Minggu). Tapi karena saya khawatir tidak sempat kesana hari itu, akhirnya kami sepakat hari Selasa hard disk saya ambil.

Dari sekelumit peristiwa di atas, semakin memahamkan saya tentang karakter pelanggan. Meski, dalam kasus tersebut saya lah pelakunya, saya yakin cukup menggambarkan orang kebanyakan. Pepatah “Pelanggan adalah Raja”, tidak bisa terbantahkan lagi. Dan kenyataan pelanggan itu sangat egois, juga benar adanya. Setiap manusia, pasti berprinsip what’s in it for me ( WIIFM), atau “apa manfaatnya buat saya?”. Seseorang mau berurusan dengan orang lain hanya jika dia punya kepentingan untuk dirinya sendiri. Jadi, kalau Anda sebagai pemilik bisnis, hanya mengharapkan keuntungan tanpa berusaha memberi manfaat ke pelanggan, saya jamin tidak yang akan sudi membeli produk Anda. Bahkan, melirik pun tidak. Dan satu lagi pelajaran yang bisa saya dapatkan, ternyata pelanggan itu sangat pemaaf.

Jika suatu saat Anda harus menghadapi seorang pelanggan yang merasa kecewa, pastikan Anda sudah menyiapkan cara untuk menanganinya. Mungkin beberapa cara berikut ini, bisa menambah amunisi Anda.
1. Selalu berpikir dan bersikap positif
Ketika seorang pelanggan merasa tidak puas dengan produk atau layanan Anda, justru suatu keberuntungan jika dia mau komplain kepada Anda. Karena, jika mendiamkannya, pastilah dia akan menyebarkan cerita buruk bisnis Anda kepada teman, keluarga, tetangga dan semua orang yang ditemuinya. Dan yang harus diingat, pelanggan marah kepada kesalahan bisnis Anda, bukan pada Anda sebagai individu. Jadi anda tak perlu emosional dan jangan pernah sakit hati karenanya.

2. Bertemu langsung dengan pelanggan
Usahakan, Anda bertemu muka langsung dengan si pelanggan, bukan melalui telepon atau surat. Dengan begitu, Anda bisa bisa mengamati gerak tubuh pelanggan yang menggambarkan kemarahannya, dan Anda bisa merespon dengan gerak tubuh yang tepat, sehingga bisa menunjukkan simpati Anda terhadap permasalahan pelanggan.

3. Sampaikan maaf, meskipun Anda tidak bersalah
Buang jauh-jauh ego Anda dan ucapkan maaf kepada pelanggan. Meski Anda yakin tidak melakukan kesalahan, jangan pernah membantah perkataan pelanggan. Ketika dalam keadaan marah, pelanggan belum bisa berpikir jernih, jadi jangan coba mendebatnya. Redakan dulu emosinya, setelah itu baru bicarakan pokok permasalahannya.

4. Bantulah secara tulus
Pastikan Anda mendengarkan keluhan pelanggan secara tulus dan serius, sehingga pelanggan merasa dihargai. Tunjukkan bahwa Anda siap sedia membantu mengatasi masalahnya, dengan seluruh kemampuan yang Anda miliki. Berkomunikasilah secara personal, sehingga akan lebih berkesan di mata sang pelanggan.
5. Tunjukkan bukti permohonan maaf Anda
Ucapan maaf saja, mungkin tidak cukup manjur mengobati sakit hati pelanggan. Coba berikan hadiah sebagai bentuk permohonan maaf Anda. Souvenir, voucher atau diskon khusus bisa Anda gunakan untuk mempererat kembali hubungan dengan pelanggan. Dengan cara ini, semoga bisa membuat pelanggan kembali ke toko Anda di hari berikutnya.

Bisnis yang baik bukan berarti tidak melakukan kesalahan, melainkan yang bisa mengubah kesalahan yang mereka lakukan menjadi nilai tambah bagi bisnisnya. Menangani dengan baik kekecewaan seorang pelanggan, akan menciptakan pelanggan yang setia. Dan dia pun akan menceritakan kisahnya ke orang lain, maka proses gethok tular akan berjalan..Jadi, jangan pernah takut melakukan kesalahan untuk menjadikan bisnis Anda lebih baik dan menguntungkan, karena pelanggan setia akan senang hati memaafkan kesalahan Anda.

- Sumber gambar:  http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTis97_fUTm4MfZhxRhDB_cmuU_S7cDb4ze-cCyiG0pcJKYNbib
Tweet This
»»  READMORE...  

Saturday, May 24, 2008

Awas! Hindari 30 Kesalahan Fatal pada Iklan Anda






1. Tidak menggunakan judul yang menggugah
2. Tanpa testimonial
3. Tidak mengunakan anak judul
4. Tidak ada keuntungan yang menggiurkan
5. Tanpa fitur/kelebihan produk
6. Tidak ada garansi
7. Tidak ada pertanyaan yang harus dijawab pembaca
8. Tidak ada bukti dari manfaat yang ditawarkan produk Anda
9. Tidak menyediakan kontak informasi
10. Tidak menggunakan testimonial dari seorang tokoh terkenal yang sudah membuktikan manfaat produk Anda
11. Tulisan iklan terlalu kaku dan resmi
12. Menggunakan kalimat terlalu panjang
13. Tidak ada batas akhir pemesanan produk Anda
14. Tidak menyediakan failitas ujicoba gratis produk Anda
15. Kesalahan ejaan tulisan pada iklan Anda
16. Kesalahan tata bahasa
17. Menggunakan backround terlalu gelap
18. Tidak ada jeda pada naskah iklan Anda
19. Tulisan semuanya mengunakan huruf besar
20. Cara pemesanan produk Anda terlalu merepotkan
21. Tanpa gambar penjelasan
22. Tidak ada perbandingan dengan produk pesaing Anda
23. Tulisan terlalu besar
24. Tulisan terlalu kecil
25. Naskah iklan terlalu pendek
26. Nasakah iklan terlalu panjang
27. Menggunakan slogan yang sulit dipahami
28. Tanpa bonus gratis
29. Harga terlalu rendah
30. Harga terlalu tinggi

- Sumber gambar:  http://www.boardroommetrics.com/wp-content/uploads/2012/07/advertisingsign.jpg
Tweet This
»»  READMORE...  

Thursday, May 22, 2008

3 Hal yang Harus Anda Perhatikan untuk Memasang Iklan Yellow Pages






Anda seorang pengusaha kecil menengah? Atau seorang agen sebuah produk? Dan Anda perlu memasang iklan di Yellow Pages? Berikut ini, 3 hal yang harus Anda pahami untuk memaksimalkan iklan Anda di Yellow Pages.
1. Iklan Yellow Pages sangat sederhana, sehingga Anda bisa menciptakannya dengan mudah. Begitu sederhananya, sehingga Anda tidak perlu menyewa pakar marketing atau seorang desainer grafis untuk menciptakan iklan Yellow Pages yang efektif. Anda hanya perlu tahu, siapa pelanggan Anda.
Anda pasti sering melihat iklan yang cantik dan indah diYellow Pages. Iklan itu mungkin dibuat oleh biro iklan ternama, atau minimal menyewa desainer grafis handal. Sebuah iklan yang sangat menarik perhatian pembaca Yellow Pages.Tapi, apakah Anda dan pemasang iklan lainnya, hanya ingin membuat iklan yang bagus dan antik? Atau mengharapkan pujian dari pembaca Yellow Pages? Saya yakin bukan itu tujuan Anda memasang iklan. Karena Anda memasang iklan untuk meningkatkan penjualan produk Anda dan mengalirkan uang masuk ke kantong Anda, bukan?
Nah, bagaimana membuat iklan yang bisa mendatang keuntungan bagi perusahaan Anda? Sangat mudah tentunya. Anda hanya perlu mempelajari bagaimana membuat judul iklan yang baik, naskah iklan yang baik dan bagaimana menciptakan penawaran yang hebat.
Jangan pernah menuliskan nama dan logo perusahaan Anda di judul iklan. Pembaca Yellow Pages tidak akan memperdulikan siapa Anda atau logo perusahaan Anda yang cantik, keculai mereka membutuhkan sesuatu dari perusahaan Anda.
Ciptakan Judul iklan yang mampu memberi solusi permasalahan pelanggan. Atau bisa menjawab pertanyan pelanggan. Pasti, mereka akan membaca keseluruhan iklan Anda dengan sangat antusias.

2. Kebanyakan iklan Yellow Pages dibuat oleh Pihak Penerbit Yellow Page. Padahal, selain Anda ada berapa perusahaan pesaing yang iklannya dibuat oleh pihak Yellow Page juga. Jadi, sangat mungkin terjadi, iklan Anda sama persis dengan iklan pesaing Anda. Bukankah ini hal yang buruk bagi perusahan Anda?
Jangan pernah menyerahkan sepenuhnya pembuatan iklan Anda kepada orang lain. Pelajari bagaimana cara meningkatkan respon iklan dan terapkan di iklan yang Anda pasang. Ikut sertalah dalam proses pembuatan iklan, karena Anda lebih tahu tentang pelanggan Anda sendiri.

3. Iklan di Yellow Pages jauh berbeda dengan iklan di media lainnya. Karena pembaca iklan YellowPages adalah calon konsumen yang siap membeli produk yang mereka cari. Bahkan mereka sudah menyiapkan uang untuk membayar Anda, jika produk yang Anda tawarkan adalah yang mereka butuhkan.
Apakah cukup dengan menulis siapa Anda dan apa yang Anda tawarkan? Jawabannya adalah TIDAK! Karena yang terpenting adalah alasan kenapa seseorang harus memilih produk Anda daripada prpduk pesaing. Sekedar memberitahu produk yang Anda tawarkan, sungguh sia-sia. Seorang pembaca yang membutuhkan produk pakaian, tentu langsung membuka halaman kategori pakaian, bukan yang lain. Jadi, beritahukan kelebihan produk Anda yang tidak dimiliki produk pesaing.


- Diolah dari sebuah artikel di http://www.YellowPagesProfit.com.
- Sumber gambar:  http://www.activitiesgreece.gr/images/backgrounds/yellow.jpg
Tweet This
»»  READMORE...  

Friday, May 16, 2008

Ssssttt...10 rahasia konsumen yang perlu Anda ketahui








Sudah pernah nonton film What Women Whant-nya Mel Gibson? Film produksi tahun 2001 itu,mengisahkan seorang Creative Director di salah satu biro iklan di New York yang bisa “mendengar” kata hati wanita. Nah, setelah menonton film itu, saya jadi berpikir, pasti semua orang yang bekerja di dunia pemasaran ingin memiliki kemampuan itu.

Salah satu rahasia bagi seorang pemasar yang belum terungkap hingga saat ini adalah keinginan konsumen yang sebenarnya. Produk seperti apa yang mereka suka, apa yang tidak mereka sukai dari produk kita, berapa harga yang mereka harapkan dan banyak rahasia lain yang tersimpan rapat di benak mereka. Berikut ini beberapa hal yang bisa sedikit menguak tentang keinginan konsumen yang perlu Anda ketahui.

1. Kebanyakan orang menyukai kejutan, karena akan menciptakan perubahan pada rutinitas kehidupan mereka. Jadi, pastikan ada kejutan istimewa untuk pemesanan produk Anda. 

2. Kebanyakan orang, ingin hidup lebih mudah. Jadi, sederhanakan cara pemesanan dan cara menggunakan produk Anda. 

3. Kebanyakan orang menginginkan rasa aman. Beritahu konsumen, bahwa Anda memiliki sistem pemesanan yang aman dan terjamin.

4. Kebanyakan orang menyukai pujian terhadap prestasinya. Ucapkan sedikit pujian kepada calon konsumen Anda.

5. Kebanyakan orang, penasaran dengan hal yang akan merubah gaya hidupnya. Gunakan kata-kata yang membuat pembaca iklan Anda penasaran.

6. Kebanyakan orang, ingin berinventasi untuk masa depannya. Lebih baik menulis “ Investasikan uang Anda dengan produk ini…“ daripada “ Beli produk kami…”.

7. Kebanyakan orang menginginkan produk atau model terkini. Jelaskan kepada pembaca, bahwa produk Anda adalah produk terbaru di saat ini.

8. Setiap orang, pasti ingin mengatasi permasalahannya. Tuliskan masalah mereka dan tunjukkan bagaimana produk Anda bisa menyelesaikan masalah tersebut. 

9. Kebanyakan orang, ingin membahagiakan orang di sekelilingnya. Tunjukkan bagaimana mereka akan membahagiakan orang di sekelilingnya dengan membeli produk Anda.

10. Kebanyakan orang, ingin mengatasi penghalang dalam mencapai tujuan hidupnya. Tunjukkan apa saja yang bisa mereka raih dengan produk Anda. 


Nah, dengan mengetahui sedikit rahasia konsumen di atas, semoga Anda bisa memberikan program pemasaran yang tepat sasaran dan lebih mengena untuk konsumen Anda. 


Tweet This
»»  READMORE...  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...